Tolong Hukum Anak Saya di Sekolah Jika Nakal, Wahai Guru

Thursday, 18 August 2016

Tolong Hukum Anak Saya di Sekolah Jika Nakal, Wahai Guru

Tolong Hukum Anak Saya di Sekolah Jika Nakal, Wahai Guru


Terjadi lagi. Guru menjadi sasaran luapan emosi orang tua yang tidak terima anaknya diberi hukuman secara fisik. Sedih lihatnya. Apalagi di media tersebar foto guru yang berdarah-darah hingga ke bajunya. Ya, seperti insiden pengeroyokan wali beserta muridnya kepada guru.

Kali ini #NGOBROLASIK akan bahas tentang Hukuman Anak di Sekolah dari kasus guru di Makasar.

Hasil penyidikan, si Anak tidak mengumpulkan PR, trus dimarahin gurunya, trus si Anak mengumpat pakai kata-kata kotor dan tidak pantas, kemudian guru menampar murid, trus si Anak nggak terima, telepon si Bapak, terjadilah pengeroyokkan.

Baca Juga kata Mei Wulandari

Menurutmu wahai pembaca, setuju pada pihak siapa?
Aku pribadi memihak pak guru, yes. Kalau aku punya anak dan disekolahin, maka aku pasrahkan kepada guru. Masih ingat dengan kata-kata ini?

"Guru adalah orang tua kedua."




Jika Aku Menjadi Orang Tua Kelak

Kalau aku punya anak, sekolah, dan melakukan kesalahan, ajari dan sayangi anakku seperti kau mengajari dan menyayangi anakmu, wahai guru. Sehingga ia nyaman belajar bersamamu. Tetapi hukumlah anakku, Bapak/Ibu Guru... jika dia salah.

Tapi tentu aku sebelumnnya akan mengajari anakku pelajaran sopan dan santun kepada orang, baik kepada orang yang lebih tua dan lebih muda sekalipun. Supaya ketika dia salah, dia paham dan mengakui kesalahan, bukannya melawan apalagi menggunakan kata-kata tak pantas. Sebab, selama hidup orang tuanya, hampir tidak pernah berkata kotor dan tidak pantas.


Memihak Kekerasan?

Sejujurnya aku tidak suka dengan kekerasan. Melihat video rusuh antar SMA aja aku udah tutup mata. Nggak berani. Jangankan itu, lihat kecelakaan aja cukup buat aku trauma. 

Tetapi masing-masing orang punya tabiat yang berbeda. Ada orang yang lembut, dihujat direndahin, dicemooh masih diam, tidak mengubris, atau hanya menangis saja. Ada pula orang yang ketika tidak terima langsung tangan ikut bermain. Tapi tentu.... emosi tidak akan muncul tanpa ada yang mancing.

Kecuali dia gila.

Murid jelas sudah salah. Tidak disiplin. Ditegur, masih mencaci guru pula. Apa ya pantas? Kalau ditanya, "Ajarannya siapa nih?! Orang tuanya gimana sih ngajarin anaknya? Gurunya kali nih yang ngajarin!"
Ya... gatau deh kalau begitu. Soalnya anak itu peniru ulung. Entah yang ditiru itu orang terdekat seperti kerabat, orang tua, saudara atau guru, bisa juga meniru kawan lainnya.

Anak mengadu ke orang tua itu sangat sangat sangat wajar. Anak memang lebih baik lari ke orang tua apapun masalahnya. Tapi dalam kasus ini, anak lebih kepada adu domba antara guru dan orang tua. Insting orang tua adalah melindungi anaknya.

Seandainya orang tuanya bijak, bertanya alasannya kenapa terlebih dahulu, mungkin... bapaknya malah marahin balik ke anaknya. Ya gatau sih, kalau masih tetap tidak terima. Atau tinggal dibalik saja, posisi dia dimaki oleh anak buahnya misalnya. 




Salah siapa?

Kalau dirunut, harusnya bapaknya jangan asal main jotos tanpa tau persoalan jelasnya. Padahal anaknya juga salah. 
Harusnya anaknya nggak telepon mengadu domba, padahal itu jelas-jelas salah dia nggak ngumpulin tugas dan memaki gurunya, tidak sopan.
Harusnya gurunya nggak spontan pakai nampar muridnya itu, bawa saja ke kepala sekolah. Skorsing, atau hukuman lain.
Hrusnya anak itu mulutnya dijaga, tidak asal ngumpat apalagi sama guru, orang tua dia yang kedua. Orang yang kelak akan berjasa ketika dia sukses nanti.
Harusnya lagi, anak itu disiplin, ngerjain pe er dan ngumpulin tugas. Jadi anak baik. 

Mungkin dia terlalu banyak main dan bergaul dengan kawan-kawannya yang suka ngumpat dan berkata jorok, jadi lupa sama pe er nya.

Jadi, menurutmu salah siapa?

Anak di Sekolah





Jaman Dulu Murid Dipukul Penggaris Kayu Kalau Lupa Potong Kuku!

Memang.
Jamanku SD, iya ada. Harus disiplin, kuku bersih. 
Tapi untungnya selama aku sekolah, nggak pernah aku dipukul. Melihat teman ditampar pernah pas SMA. Soalnya dia memang nakal. Ada guru baru keluar kelas, dia naik-naik meja. Ditampar di depan teman-teman.

Temanku dendam, jelas. Tapi dia nggak sampai kaya begini. Dia positif. Dia nunjukkin kalau dia nggak seremeh itu. Nilai dia jadi bagus. Apa coba sikap guruku yang nampar dia?

Dia dipuji dan diperhatikan betul. Guruku fair. 

Bagiku guru nggak ada yang tiba-tiba mukul tanpa sebab. Kecuali guru itu gila. Pasti ada sebabnya yang menyinggung kehormatan dia sebagai guru. Kalau guru asal mukul, guru itu bukan dipenjara, melainkan ke rumah sakit jiwa.




Hukuman Lain?

Lupa ngerjain pe er, distrap. Berdiri di pojok kelas nggak boleh duduk. Dilihat temen-temennya. Malu jelas, apalagi kalau ada gebetan. Malu, weeeyyy!
Atau masuk terlambat nggak boleh ikut pelajaran sampai pelajaran habis. Disuruh nyapu lapangan atau kebun. Ini aku pernah, haha!
Suruh lari-lari lapangan panas-panas, atau hormat bendera di siang terik. Item... item deh...
Nulis tulisan, "Saya tidak akan telat lagi" sebanyak 10 lembar.
Atau apalagi ya... ada ide?

Oh Ibu dan Ayah, Selamat Pagi...
Kupergi Sekolah... Sampai kan nanti..




Bagi Orang Tua

Gimana ya... aku belum jadi orang tua. Tapi hasil diskusi kecil-kecilan dengan teman, ada beberapa saran untuk orang tua. 

- Mohon untuk membuka mata untuk anak kita sendiri. Anak kita terlihat manis di rumah, belum tentu di luar. Bisa aja dia sok jagoan. Plis, jangan dukung anak yang nakal dan bilang, "Ini anak saya!" Namanya salah, meski tidak dengan kekerasan, tapi ya tetap harus dihukum! Atau kalau mau anaknya begitu aja terus, nggak terdidik?
- Jangan pernah berkata kasar di depan anak.
- Sayangi anak, penuhi perhatiannya supaya tidak mencari perhatian di luar, sehingga salah pergaulan.

Selamat Belajar, Nak,
Penuh Semangat....
Rajinlah Selalu, 
Tentu Kau Dapat..




Dan untuk Guru... 

Sepertinya butuh Undang-undang Perlindungan Guru, seperti saran kawan yang bekerja di sekolah. Baik untuk guru supaya menahan agar tidak asal main fisik, dan jika terjadi hal-hal yang merugikan guru seperti dikeroyok, dll, bisa dapat perlindungan.




Bagi Anak Sekolah

Hai, kawan... tahukah kamu berkata kasar itu bukanlah sesuatu yang gaul? Itu... kampungan. ^^

Hormati Gurumu...
Sayangi Teman...
Itulah Tandanya...
Kau Murid Budiman...

Sumber Gambar: Wikihow |  The Guzlint



14 comments :

  1. Hai mbak vindy..sbnrnya posisi guru sekarang ini lemah..terhalang UU perlindungan anak dann lebih lagi ke soal HAM.. ah entah deh...aq miris sama negeri ini..guru kok ga ada harganya sama sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, iya... itu juga alasannya. Duh.. miris sekali.. :(

      Delete
  2. lagian tu anak manja banget ditampar dikit langsung ngadu orang tua, saya pernah ditampar guru beberapa kali juga gak pernah bilang orang tua. apa anak anak zaman sekarang pada cengeng kali ya. hehe
    menurut saya,anak yang kayak gitu tidak ada pendidikan dasar dari orang tuanya,karena yang banyak waktu buat anak itu ya orang tuanya. Tapi kita do'akan saja semoga tidak ada kasus seperti ini lagi. :)

    ReplyDelete
  3. menurut saya sih mbak, kalau si anak bersalah di sekolah seharusnya ya dihukum, coba lihat deh mbak pendidikan zaman 90an, anak digampar disekolah tapi tujuannya adalah baik supaya anaknya terdidik dan mempunyai mental yang kuat, beda banget dengan pendidikan zaman sekarang, dimana anak bersalah lalu dicubit oleh gurunya, orangtuanya pun ikut campur. kalau anaknya gak mau untuk didik, mending home schooling aja mbak :D hehehe

    ReplyDelete
  4. baru kali ini, aq baca tulisan yang lebih memihak ke gurunya tapi tetap menulis dg seimbang. Aq mau nulis juga ttg tema ini tapi datanya belum dapat banyak, baru berupa opini2 aja,

    ReplyDelete
  5. Vin, aku pernah nonton acara yang membahas psikologis anak di era internet ini. Kenapa anak jaman sekarang berbeda dengan era kita yang dipukul atau ditampar lebih baik diam. Kata psikolog anak, anak jaman sekarang itu memegang kendali atas orang tua, g kayak dulu, orang tua yang mengendalikan anak. Dari situlah perilaku yang dulu tidak pernah terjadi muncul.

    Kejadian guru menampar si murid, pasti lah reflek terjadi ketika si murid berbicara yang tidak pantas, orang tuaku juga memberikan didikan seperti itu ketika anaknya ngomong jelek, bibirku di kampleng, tapi kita juga sadar kalau kita salah makanya kita langsung diam, kalau anak sekarang? Nggak bisa kalau pakai cara kasar, mendidik anak era digital mestilah beda dengan anak seperti kita yang baru ngerti internet beberapa tahun belakangan ini. Kalau saranku sih, ada pelatihan atau sosialisasi dengan psikolog anak dan pihak2 yang memang mengerti tumbuh kembang anak kepada guru-guru agar kedepannya mereka punya strategi lebih jitu dalam menghadapi anak macam tadi.
    Lalu dari pihak orang tua, merekalah yang harus mengendalikan anaknya dengan mengajarkan sopan santun dan tata krama yang baik, g asal sembrono main hajar aja, kalau aku liat si orang tua murid dalam kasus ini pada lupa kayaknya sama jasa-jasa guru.

    ReplyDelete
  6. Semoga siswa dan orang tua selalu menghormati guru, karena tugasnya gak ringan. Sebagai guru pun harusnya ebih mawas diri dan gak pakai kekerasan.

    Pokoknya hormati gurumu, sayangi temanmu

    ReplyDelete
  7. Sekarang emang udah beda . Bener tuh ! orang dulu kalo sekolah lalu melanggar peraturan yang sudat dibuat , dipukul memakai penggaris kayu , dilempar penghapus papan tulis , dll tidak ada mengeluh sama sekali kepada orang tua nya.Malah jika mengadu kepada orang tua bukan dibela , tapi malah ditambahin . hahaaha , saya pernah ngalamin soalnya.

    Dan sebenarnya jika dilihat dari kejadian tsb , yang salah itu si anak yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh si guru tsb.Jujur , saya sangat prihatin mendengar kejadian tersebut.

    BTW ... itu lagu nya , lagu kesukaan saya , waktu zaman SD dulu :D

    ReplyDelete
  8. Anak sekolah jaman sekarang udH dikasih lebel jangan dihukum
    Beda sama anak sekolah jaman dulu
    Suruh j si anak dididik di rumah
    Orang tuanya yg ngajarin
    Biar tau rasanya ngadepin perilaku anak2 sekarang

    ReplyDelete
  9. Gak ngerti, kok bisa ya ada murid yang segitu beraninya ke guru sampe ngomong kotor padahal yang salah dia sendiri. Kalo gak mau dapat tugas, gak usah sekolah aja sekalian. Parahnya malah sok jadi korban penganiayaan. Bapaknya apa gak bisa mikir logis, kalo ditegor sekeras itu pasti ada sebabnya. Ya kali gurunya sakit jiwa mukul anak orang sembarangan tanpa alasan jelas. Agak menyedihkan ngeliatnya, cuma berani sok-sokan dibalik punggung orang tua. Seramah-ramahnya, seasik-asiknya guru di sekolah gue, gue gak pernah berani sampe selancang itu. Beda didikan lah yaa... keluarga gue bukan keluarga preman kek si cowok itu. :/

    ReplyDelete
  10. Gue stuju sama postingan ini.
    Sialnya memang orang tua sekarang terlalu "memanjakan" anaknya sehingga punya pandangan bahwa apa yang disampaikan anak ke mereka adalah "benar"

    padahal anak itu cerminan bagaimana orangtua mendidiknya di rumah. hadeh..

    kyanya waktu gue sekolah dulu guru-guru gue malah keras banget tapi gue tahu gue salah makanya yawes trima aja.

    ReplyDelete
  11. Ga membenarkan hukuman fisik yg dilakukan guru. But on the other hand, suka wondering, kenapa sekarang semua jadi serba dilebih-lebihkan. Zamanku SD semua guru galak. Ada yang saking galaknya suka mukul pakai penggaris kayu panjang tapi ga pernah ada yg komplen hehehe

    ReplyDelete
  12. Aku sukaaaaa!
    Apa ya, menurut aku guru sama murid itu sama. Walau umurnya beda tapi harus saling menghormati. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda, ya harus selalu positive thinking.
    Jaman sekarang udah beda sih, Teh Vin. Yaaaa... And idk mau ngomong apalagi.
    Geleng-geleng.

    ReplyDelete
  13. gue boro-boro mo ngadu ke ortu, dulu gue kalo ngadu malah ditambahin. dicambuk gue pake gesper :'((

    setuju. yang penting sih, jangan terlalu memanjakan si anak :)

    ReplyDelete

Jejakkan komentar, saran, kritik, dan pertanyaan melalui Contact atau komentar di bawah ini. Gunakan komentar Facebook (di atas) jika ingin mendapat notifikasi balasan langsung dari Facebook. Atau bisa juga dengan akun Blog/Gmail.

Terima kasih berkenan membaca dan mampir di Vindy Pindy Mindy.
--- www.vindyputri.com