dilan-1991-review
Film REVIEW

Dilan 1991 – Nangis Terooos…


Siapin tissue untuk nonton film Dilan 1991 ini. Banyak adegan mellow. Karena sekarang Dilan dan Milea sudah resmi pacaran. Emang biasanya pacaran tuh nggak se-happy pas PDKT ya? Berantem terooos… nangis terooos!

Iya.

Bagi saya film ini pelengkap dan harusnya sudah selesai aja di sini. Meski yaaa masih bakal ada film Milea, tapi saya jadi agak malas nonton selanjutnya. Karena sama persis ketika saya baca novel Dilan 1990 saya sangat jatuh cinta dengan sosok Dilan di situ. Sama seperti review saya yang begitu menggebu-gebu untuk film ini. Tapi saya harus manuver jatuh biasa aja ketika saya nonton Dilan 1991.

Baca 30++ Quotes Dilan 1991

Baca Review Dilan 1990

Baca Katanya Sih Ini Milea dan Dilan yang Asli

Jujur memang saya menutup Dilan 1991 di tengah buku. Karena saya nggak suka karakter Dilan di situ. Dia berubah. Nggak seromantis tahun 1990. Dia kasar, egois, pokoknya nggak sama kaya Dilan 1990. Lanjut baca buku Milea? Jujur aja nggak karena langsung jadi ilfil. Jadi yang tadinya saya ilfil ketika baca bukunya, di film saya nggak merasa puas juga. Saya pernah nulis review-nya di Goodreads seperti ini tahun 2016:

 

Iqbaal Tetap Ganteng

Yang bikin saya ilfil karakternya loh. Bukan kemudian saya lantas nggak suka filmnya. Saya suka karena film ini bisa membangun emosi penonton. Berkali-kali saya menangis. Tapi saya malu keluarin Tissue, soalnya bioskop di jam pertama dan hari pertama itu sudah padet, Jendral. Nanti ketahuan kalau saya nangis, haha!

Padahal saya tengok barisan-barisan di bawah kursi saya tuh nyeka sesuatu di pipinya. Ya apalagi kalau bukan air mata. Netes. Saya juga sampe ke leher sih netesnya. Soalnya saya ikut ngerasain kecewa dan bingung juga.

dilan-1991-review2

Iqbaal tetap ganteng kok, meski memang lama-lama saya agak bosan dengan gayanya yang dibuat cool. Untung ganteng ya, jadi ya saya tetep suka-suka aja lihatnya.

Yang paling saya suka ekspresi Dilan ketika tahu Milea menangis karena membenci seseorang di kursi teras rumahnya. Atau ketika Dilan berusaha menyuruh Milea jangan menangis. Bagiku, ya… sikap itu tuh cowok banget. Cowok nggak akan bikin cewek nangis. Dan nggak pengen cewek yang disayanginya nangis karena apapun.

Sama seperti mas suami saya yang langsung peluk saya ketika saya nangis. Padahal saya yang rewel. Uhuk!

 

 

 Vanesha? Hm…

Sempet kan fans Dilan ilfil sama Vanesha secara pribadi karena abis film Dilan, eeeh mesra sama Adipati Dolken di Film Teman Tapi Menikah. Saya juga nonton tuh yg Film TTM baru-baru ini.

review-dilan-1991-6

Untungnya saya nontonnya baru-baru ini. Karakter dia di film TTM kan tomboy cuek. Naaahhh pas di Dilan, karakter Vanesha alias Milea tuh polos lembut gemesin. Jadi buat saya, kejadian ilfil sama Vanesha kemarin tuh nggak jadi masalah lagi. Dilan Milea masih kuat chemistry-nya.

Tatapannya…
Senyum tulusnya…
Adegan gemesnya…

Akting cewek ini leh uga. Semua masih dapet kok feel-nya. Saya suka. Paling suka kalau pas mereka goncengan di motor sambil ngobrol, pipi Dilan nempel di pipi Milea. Hihi… gemas!

dilan-1991-review

 

 

 Masih Khas Remaja SMA

Yaaaa anak SMA tuh labil-labilnya anak sih, meski memang terlihat sudah dewasa, tapi tentu masih ada campur tangan orang tua. Paling tidak buat pelajaran aja untuk kita semua, pengawasan orang tua nggak boleh lepas. Meski memang untuk di zaman sekarang, orang tua kaya mereka tuh nyaris nggak ada yang seterbuka dan sesempurna seperti di film ini. Apalagi masih SMA. Jadi kayanya penonton bakal batin, “Enak banget ya punya orang tua kaya mereka….”

review-dilan-1991-8

Entah emang tahun ’90-’91-an ini lazim hubungan antara anak-ortu begini atau ini pengembangan alias bagian fiksinya. Ya kita tahu ini berdasarkan kisah nyata, tapi… pasti ada fiksinya.

Dan saya ngerasa Dilan-Milea ini pacaran yang termasuk nggak neko-neko. Beda sih sama anak zaman now.

Baca 30++ Quotes Dilan 1991

Baca Review Dilan 1990

Baca Katanya Sih Ini Milea dan Dilan yang Asli

 

 

 Adegan Cium

Udah dikode sebenernya sejak awal, gaya Dilan Milea kan tangannya mencucu menyerupai bibir tuh, bahkan di thriller juga dikasih tau dialog,

Mau diwakilin atau langsung?

review-film-dilan-1991-5

Nah, jadi saranku sih, yang nonton juga mudah-mudahan cukup terbuka pikirannya, yah. Mudah-mudahan juga seandainya film ini meledak lagi, gak muncul petisi yang nyuruh boikot Dilan 1991 gegara nyeritain anak SMA pacaran dan ciuman. Hehe.

Nikmatin aja bosque…
Aman kok, kecuali yang nonton piktor sih.

 

 

 Ada yang Ganjil

Namanya juga film ya kan… filmnya bagus tapi pasti ada kurangnya. Terutama logika di film. Kalau ini saya tulis aja kali ya apa aja yang ganjil. Tapi kalau kalian gamau baca, kalian bisa skip bagian ini hehe… lagian kalian yang udah baca bukunya juga udah tau kan alur ceritanya? Kecuali aku yang nggak baca buku Dilan 1991 dan Milea.

dilan-1991-review1

  1. Kalau jadiannya 22 Desember 1990 (sesuai deklarasi proklamasi jadian di film 1990) kenapa menuju adegan tahun baru 1991 di film ini terasa begitu lamaaaa sekali. Padahal logikanya, dari jadian ke tahun baru tuh cuma 8 hari. Apakah memang kejadiannya cuma 8 hari? Seminggu gitu? Padahal banyak sekali kejadian, banyak ketemu pagi dan malam, beberapa kali ketemu malam minggu.
  2. Pas Dilan di penjara, kayanya ada beberapa hari dan rasanya biaa itungan bulan. Soalnya Milea jadi panitia pentas seni di sekolah. Sibuk katanya. Nah pas kelar acara, Milea jenguk Dilan. Tapi masa luka tonjok-tonjokan itu masih merah aja? Kayak baru kemarin gitu.
  3. Ada kisah yang nggak dijelasin akhirnya gimana. Padahal penasaran banget sama guru yang suka sama Milea. Kukira bakal dihajar sama Dilan karena deketin Milea. Ternyata gak ada kelanjutannya sampe Milea lulus kuliah dan ending. Yaaahh.. padahal saya penasaran. Kali aja kan ada bumbu-bumbu pelecehan di sekolah trus jadi nilai tersendiri buat penonton untuk selalu waspada. (Saya emang nggak tahu cerita di buku 1991)
  4. Kayanya ada lagi tapi saya lupa haha…

 

 Overall

Saya cukup menikmati. Saya bisa menangis, ikut tersenyum pas Dilan gombal, dan saya bisa ketawa meski hanya di beberapa adegan. Dominan mellow di sini. Dan romantis gombalannya masih lebih yahud di film Dilan 1990. Saya akan kasih beberapa quotes Dilan 1991 yang berhasil saya ingat-ingat ya! Saya bikin di post terpisah supaya kawan-kawan nggak scroll kepanjangan kaya di review 1990 kemarin.

Baca 30++ Quotes Dilan 1991

 

 Dilan dan Bandung

Ohya, untuk kabar ada semacam monumen atau apa gitu di Bandung dari film Dilan, buat aku sah-sah aja, ya. Karena kita nggak bisa memungkiri prestasi film ini tahun lalu nyampe 6 juta penonton kalau nggak salah. Yang mana di film ini ngangkat kota Bandung di suasana tahun 1990 dan 1991. Pasti nggak sedikit orang pengen ke Bandung untuk mengimajinasikan Dilan-Milea di kota itu. Toh, itu diangkat dari kisah nyata.

Sama kaya Hachiko di Jepang. Dibilang berlebihan ya enggak juga. Karena film Hachiko mungkin mendatangkan penghasilan pengunjung dari luar negeri. Sama seperti pengunjung ke dalam Bandung. Nggak harus menjadi pahlawan juga kan untuk dikenang?

Btw, gimana guys? Sudah nonton? Atau berencana nonton tapi kehabisan tiket? Di mana-mana tiket bisa pre order kok.

Selamat nonton!
Kalian suka Dilan 1990 atau 1991?

 

Baca 30++ Quotes Dilan 1991

Baca Review Dilan 1990

Baca Katanya Sih Ini Milea dan Dilan yang Asli

 

Sumber Gambar: Ilustrasi pribadi | Youtube | Ayo Bandung

807 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

BACA JUGA

15 Comments

  1. Inilah mengapa, tanpa ingin membandingkan, saya lebih milih bukan Dilan 1991 daripada bukunya. Filmnya bagus, plotnya lebih suprise dari plot film pertamanya. Namun, ada banyak yang saya harap ingin ada tapi karena kebutuhan cerita dan durasi jadinya ngga ada. Masalah teknis mah saya lewatin aja, nikmatin filmnya aja. Ekspektasi akan merusak pengalaman menonton~

  2. Belum pernah nonton film dilan baik yang 1990 maupun 1991 *duh saya ketinggalan banget yaak tapi kalau baca bukunya udah dua-duanya dan emang yang paling seru itu dilan yang 1991.

  3. Apa di sini cuma saya yang nggak baca novelnya dan nggak minat nonton filmnya? XD Review Vindy lengkap banget, plus minusnya ditulis semua, salut! Jadi pengen ngunjungin Bandung lagi nih, tp bukan krn Dilan, melainkan ketemu teman-teman BE di sana :’)

  4. Aku suka Dilan 1990… Kecewa sih sama Dilan 1991… Kecewa sama Dilan, tapi terobati di buku Milea kalau aku
    Nontonnya sih aku enggak nangis, malah ngantuk… Biasa jam malam…hahaha

  5. sampe skr sih aku br tertarik baca reviewnya aja hahahahah. yg pertama aja ga nonton :p. mungkin krn bukan genre film favoritku sih. Toh dgn baca review gini, aku ngerasa seolah udh nonton jg mba :). sayang blm nemu yg nulis spoiler biar makin ngerti hahahaha

  6. Akhirnya baca lagi review film Dilan 1991 di blognya Vindy. Seingatku setahun lalu bisa kenal Vindy karena baca review Dilan 1990 di blog ini juga, hehe..

  7. Hastira says:

    wah semangat juga sdh nonton ya, banyak yang menunggu ini filmnya

  8. Gak baca semuanya ya nih… Bintang 4/10 dulu deh buat artikelnya, nanti bisa ditambah. Belum nonton soalnya.. takut spoiler.. wahaha…

  9. Aku sih kurang begitu suka dengan adegan romancenya dilan milea yg boncengan di motor itu. Kok kesannya intim bgt ya? Gak kaya anak sma?

  10. Dilan 91 emang bikin patah hati ya… Saya baca bukunya nangis, tp nonton filmnya mah engga… Loh blum baca milea? Itu cerita dr sisi dilan… Dr milea saya jd paham, cewe & cowo emang beda…

    1. Belum karena sudah patah di Dilan 1991 huhu… apakah aku harus membacanya?

  11. Nikmatus Solikha says:

    Lhaa… aku malah nggak nanges, sempet heran karena temen barenganku kok mbendul matanya… wkwkw

  12. saya belulm nonto, masih nunggu ada downloadan di layarkaca21 :v

  13. Erlinda says:

    Fix baca instastory mu aku langsung baca blog deh. Alhamdulillah udh dapet tiket di hari ke-2 Phyn. Karena gak mau nunda nonton Dilan 1991 yang udh se penasaran itu. Dan masih penasaran berapa jumlah penonton di hari pertamanya? kok tiket dimana mana pada abis.

  14. Wah mbk vindy sudah nonton aja. Aku beloomm. Entah kapan nih bisa nonton. Makasih yah udh direview-in.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.