Persiapan Critical Illness

Pada “Seminar Parenting Anak, Ada Apa dengan Gadget?” Menjadi pertemuan saya dengan Marisa Selvy yang profesinya sebagai psikolog. Ibu-ibu muda termasuk saya, yang baru saja dikaruniai baby D, buanyak sekali pertanyaan tentang bagaimana penanganan anak agar tidak ketergantungan dengan namanya HP. Ada yang tanya tentang bagaimana jika pekerjaan orang tuanya lewat smartphone. Solusi yang diberikan Marisa, cukup ringan.

Buat saja semacam tempat mungil, bisa meja atau kursi khusus. Jika orang tua di tempat itu pegang smartphone, artinya kerja. Tapi ya ortu harus sportif, jika keluar dari tempat itu, smartphone harus ditaruh.

Solusi itu mungkin bisa saya terapkan, saat baby D agak besar. Okey, terima kasih wawasannya. Dari berbagai curhatan dan pertanyaan ibu-ibu, sebenarnya ada pertanyaan yang menganjal untuk ditanyakan. Pertanyaanya di luar materi, tapi takut merusak suasana hati pemateri Marisa atau yang akrab dipanggil Mbak Icha.

Denger-denger sih, denger-denger ini lho ya. Anak dari pemateri Mbak Icha terkena penyakit serius, yaitu kanker darah atau leukimia. Meski sudah terdiaqnosa penyakit serius dan meski hatinya serasa hancur berkeping-keping, masih ada harapan karena anak-anaknya tercover asuransi.

Bahkan, putra bungsunya tersebut terdeteksi leukimia sejak 2017 lalu. “Awalnya malah diagnosa dokter kena demam berdarah, karena ada bintik-bintik merah,” kata Mbak Icha. Perempuan bekerudung itu, justru bercerita panjang lebar tentang penyakit anaknya itu. Dibalik wajah tegarnya, perempuan berkerudung itu menambahkan cerita lagi tentang penyakit anaknya. Bahkan, menunjukan foto kebersamaan dan keceriaan dengan buah hatinya tersebut.

Mbak Icha bisa seperti itu, salah satu caranya adalah perasaan lega. Lega kenapa? Coba bayangkan… Ternyata, persoalan biaya kesehatan pengobatan leukimia tersebut sudah dicover oleh Asuransi Jiwa. Mbak Mbak Icha juga mengaku, seandainya tidak ada asuransi maka semua barang yang dimiliki akan dijual semua. “Untungnya penyakit kronis bisa tercover asuransi,” kata Mbak Icha.

Mbak Icha sendiri pernah melihat struk satu kali kemotrapi biayanya mencapai 7 juta. “Kalau ditotal 25 kemotrapi sudah berapa duit. Totalnya bisa 175 juta,” ujar Mbak Icha. Dari cerita itu membuat saya semakin peduli terhadap kesehatan anggota keluarga. Penyakti bisa datang kapan saja, tidak menunggu tua. Kalau bicara penyakit di masa tua, saya ingat ibu mertua juga sakit jantung. Udah nggak bisa kerja capek-capek lagi. Dikit-dikit harus minum air putih tapi nggak boleh langsung banyak. Repotnya jadi sering buang air kecil.

Smartphone saya juga mulai jadi mesin pencari asuransi apa yang tepat untuk bisa menjamin penyakit kronis. Hingga, akhirnya mencari referensi tentang Asuransi Jiwa flexible. Akhirnya saya menemukan yang saya cari. Asuransi Flexi Critical Illness (Flexi Life) namanya. Akhirnya saya mengklik website ilovelife.co.id milik asuransi Astra Life. Lihat foto bayi yang disayang oleh ayahnya, langsung ingat Baby D dan Mas Suami.

 

Apa Itu Flexi Life?

Ini adalah salah satu asuransi jiwa murni. Biaya pertanggungan dan preminya bisa ditentukan oleh nasabah sendiri. Polisnya cuma satu dan berlaku seumur hidup. Disesuaikan ini maksudnya begini: Misalnya resiko sakit saat umur sekarang kan masih kecil, sehingga biaya preminya kecil. Nanti jika sudah mulai tua dan ingin investasi kesehatan, biaya premi diperbesar. Bisa juga disesuaikan dengan budget per bulan kita. Seandainya kita masih belum punya gaji yang cukup, bisa mengambil biaya premi kecil. Nanti kalau kita sudah punya usaha dan penghasilannya besar, premi bisa diperbesar. Ini bisa diperpanjang hingga 85 tahun. Preminya sangat ringan. Diibaratkan semurah kopi setiap hari.

Ada lagi kondisi dimana kita ada kebutuhan mendadak, misal beli mobil. Maka di tengah-tengah kita turunkan biaya premi. Biaya premi bisa dibayarkan per bulan atau per tahun. Semua itu bisa dilakukan di website ilovelife.co.id.

 

Flexi Critical Illness

Ketertarikan saya dengan asuransi di website ilovelife milik Astra Life, sambutan Mas Suami datar-datar aja. Padahal, Mas Suami pernah cerita semasa masih mahasiswa pernah ikutan materi jadi agent asurasi. Ikut asuransi itu harus bayar premi setiap bulan, katanya gitu.

Mas Suami pun mulai kepoin deh. Soalnya, premi yang harus dibayar setiap bulan itu bisa flexsibel di ilovelife. Semisal seharusnya premi setiap bulan dibayar 500 ribu, bisa diubah sewaktu-waktu 200 ribu, jika sewaktu-waktu ada kebutuhan renovasi rumah. “Lek ngene rodok enak,” kata Mas Suami gitu. Maklum, Mas Suami orang Surabaya, bahasa jawanya medok banget.

Bagi saya asuransi penyakit kritis seperti kanker, stroke, jantung perlu diperhatikan. Apalagi, namanya stroke rasanya sering terjadi saat tua nanti #AmitAmit. Sebagai istri ya tidak ingin saya atau suami kelak kena stroke. Flexi Critical Illness milik Asra Life juga mengcover kanker tahap lanjut dan kanker tahap awal dengan nilai perlindungan hingga 2 Miliar tanpa cek medis

Tidak itu saja, 50% uang pertanggungan akan dibayarkan ketika sudah didiagnosa kanker tahap awal, Ini ngebantu kita dan keluarga banget untuk memiliki dana. Jadi bisa melakukan pengobatan dan melawan kanker. Nilai perlindungannya bisa mencapai 2 miliar. Ini bisa dilakukan tanpa perlu cek medis. Dan proses covernya dengan online.

Premi jadi lebih efisien karena dihitung berdasarkan risiko setiap tahun. Sehingga harga premi bisa berbeda-beda setiap orang. Asyiknya menurut saya sih, ada komitmen tahunan dan otomatis diperpanjang sesuai kebutuhan. Bisa hingga usia 85 tahun. Nggak perlu repot daftar ulang tiap tahun.

Ini tutorial untuk menafsir berapa biaya premi seandainya beli asuransi Flexi Critical Illness. Siapkan scan atau foto KTP sebelum mendaftar asuransi Flexi Critical Illness. Kalau temen-temen memang tertarik, bisa pakai kode referal BLOGVINDY84. Kode referal itu bisa dipasang di ending sebelum checkout. Ikuti step di bawah ini yaa…

CARA-DAFTAR-ASTRA-LIFE-CRITICALL-ILNESS

 

Semoga kita senantiasa sehat ya…

Sumber Gambar: Astra Life Official Website | Dokumen Pribadi Melisa | Pexel

811 total views, 9 views today

2 thoughts on “Persiapan Critical Illness

    1. Memang perencanaan seperti perlu banget mengingat biaya kalo sakit mahal banget apalagi yang kritis2 gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.