Film Inspiratif OPINIKU REVIEW

REVIEW – Dua Garis Biru Ngajarin Sex di Luar Nikah? (Sex Education)


NO SPOILER! Ketika review ini ditulis, film masih diputar di bioskop.

Review ini mungkin juga akan mengandung pro dan kontra. Karena isinya opini saya pribadi yang mungkin sangat bisa berbeda dengan pola pikir dan pendapat masing-masing. Tapi jomlah kita diskusi yang sehat.

Film ini sejak keluar trailer-nya saja sudah menuai kontroversi. Terutama diperdebatkan oleh orang dewasa. Khawatir kalau film ini bisa mempengaruhi remaja milenial saat ini. Khawatir kalau abis nonton trus pengen sex bebas. Khawatir kalo abis nonton ini mikir kalo pacaran gapap asal ga hamil.

Okey, let’s read my review.

Sejak tau Zara JKT48 mau min film lagi, ga mikir panjang, “AKU MAU NONTON!” Soalnya dia salah satu member yang aku suka karena cantik dan berbakat. Bagi yang belum tau, Zara pernah main di film Dilan sebagai adik Dilan dan Keluarga Cemara sebagai Euis. Entah kalau ada di film lain, yang saya tahu dua judul itu.

 

Baca Juga:

Review Dilan 1990

Review Dilan 1991

 

Bagiku, Zara yang dari member JKT48 akan menarik banyak remaja milenial, karena para WOTA itu banyak, jendral. Fans Zara banyak! Jadi, cucok kalau Zara jadi percontohan segmen remaja.

Trus pas tau ceritanya tentang hamil di luar nikah, saya selow. Karena memang saya bukan tipe yang suka mencela karya orang. Sejelek-jeleknya karya, tetap bagus menurut saya. Karena kalau saya disuruh bikin belum tentu bisa. Ya, kan?

Dua Garis Biru Review

Trailernya ada adegan sepasang remaja pacaran, gandengan tangan, peluk, cium, trus layar gelap, tau-tau di ranjang berdua selepas berhubungan badan.

Oya, saya nggak mem-blur atau menggunakan istilah ambigu, ya. Saya akan bilang apa adanya. Misal: berhubungan badan tidak saya tulis ‘gituan’. Jadi maaf kalau ada yang kurang berkenan.

 

2% Adegan 98% Pembelajaran

Film ini padat. Alurnya maju dan nggak membingungkan sama sekali. Nggak terburu-buru juga. Saya nontonnya enjoy dan bisa khidmat karena seluruh bioskop juga nyimak dengan baik.

Adegan yang dikhawatirkan orang tua kalau dilihat sama anak remaja itu disajikan di awal. Tapi isinya ya sama persis seperti trailer. Jadi saya rasa, pas nonton nggak bakal kaget abis ini gimana atau sampe tutup mata. Karena semua adegan di film sudah sering ditonton di trailer. Jadi saya rasa sudah siap nontonnya.

Dua Garis Biru Review

Selepas itu nggak ada sama sekali adegan berhubungan badan lagi. Jadi kekhawatiran para orang dewasa cuma di menit-menit pertama doang. Sisanya? Yakin saya kalau teman-teman nonton baik dari yang usianya remaja sampai orang tua bakal diem, nyimak, nangis, dan mikir…

Iya, mikir.

Karena film ini tuh emang tujuannya untuk semua mikir. Anak remaja jadi mikir kira-kira pacaran trus sex sebelum nikah itu bener nggak? Enak nggak entar menjalani hidup? Enak? Jiah… Kaya yang udah ngerasain aja. Kalau emang bener enak, trus nasib ke belakangnya gimana? Tanggung jawabnya apa saja.

Dua Garis Biru Review

Trus orang tua yang nonton juga diajak mikir sambil introspeksi. Sudah sejauh mana kita mendidik dan menjaga anak. Sejauh mana kedekatan orang tua sama anak. Kalau begini, jadinya begitu, dst. Harusnya sejak awal begini begitu dll. Bagi yang sedang dan akan jadi orang tua juga jadi bersiap diri, apa yang harus dilakukan supaya semua baik sesuai yang diharapkan.

Eh enggak cuma untuk anak dan ortu aja, ding. Peran lingkungan, kerabat, temen, dan sekolah juga digambarin di sini. Masalah kompleks yang dikemas sederhana. Saya nontonnya jadi merasakan sebagai anak, sebagai orang tua juga sebagai teman, bagaimana seandainya di posisi itu. Kesannya dapat.

Saya nangis, penonton lain nangis, srot-srot ingus juga ada.

Dua Garis Biru Review

Jadi harapannya pas keluar bioskop tuh membekas, “Aku nggak mau jadi mereka. Apa yang harus aku lakukan?”

 

Tetap Bawa-bawa Agama

Makanya, jangan nyinyir aja. Film berbau sex ini tetap bawa-bawa agama. Dan agama yang dianut adalah agama mayoritas di negeri ini. Keputusan-keputusan tetap dengan pertimbangan aturan agama. Bahkan kebiasaan beribadah bersama juga ada. Meski ada yang mengganjal, setahuku menikah ketika hamil itu nggak boleh kan ya? Nunggu sampai lahir dulu.

 

Nonton Sama Anak

Orang tua yang resah kalau anaknya nanti nonton ini trus terjadi yang ditakutkan, lebih baik ajak nonton bareng. Kemarin pas saya nonton, banyak kok anak-ortu yang nonton bareng. Itu lebih bijak menurut saya, daripada mencela tanpa tahu isi filmnya. Foto di bawah ini saya ambil sendiri pakai HP di depan studio yang bakal muterin film Dua Garis Biru.

Dua Garis Biru Review

 

Bukan Ngajak Sex Bebas

Please, nonton dulu. Ini film memang tentang sex di luar nikah. Ini memang perbuatan yang salah dan film ini bukan untuk pembenarannya. Faktanya, konflik yang diangkat sangat banyak terjadi di lingkungan kita sendiri. Dan media masih sangat minim yang menceritakan dan memberi kesan baik.

Dulu memang ada Pernikahan Dini, sinetron yang dimainkan Agnes Monica. Sekarang ada Dua Garis Biru, film yang lebih ringkas tapi padat.

Di film ini ingin mengedukasi semua lapisan umur tentang dampak dari pacaran lalu berani berbuat sex. Namanya juga film ya, konfliknya jelas dibuat rumit. Ya ini contoh kemungkinan terburuk dari akibat sex di luar nikah bagi remaja.

Kenyataannya, di dunia nyata banyak yang lebih rumit.

 

Kesimpulan Tentukan Sendiri

Penonton yang keluar bioskop berhak menentukan moral view di film ini. Silakan kalau berpikir, “Nonton film ini tetap dianggap ngajarin pacaran, asal gak hamil gapapa.”

Silakan…

Atau ada yang anggap film ini masih tidak bermoral, silakan juga. Setidaknya kita belajar dari kisah. Film kan memang pasti bernilai positif juga harus ada negatifnya. Tugas yang nonton itu memilih yang baik, dan nggak niru yang jelek.

Atau sekalian anulir film ini dan tetap nggak nonton ya sah-sah saja, silakan. Asal tidak mencela.

Sesimpel itu.

Anak-anak jaman sekarang yang mau buang uang ke bioskop itu biasanya cukup terbuka wawasannya. Mau diajak berdiskusi, mau melihat dan menghargai karya, jadi aku yakin mereka cukup mampu memilah mana baik dan buruk.

Bagi saya, film ini salah satu media Sex Education Terbaik. Kalau nggak percaya nonton aja sendiri. Ajak anak, pulang silakan diskusi. Atau kalau malu, tonton sendiri saja dulu. Jangan dahulukan nyinyir dan prasangka. Karena para orang tua kudu nonton juga.

Nah kita sebagai penonton juga kudu cerdas ya… Ini film yang awalnya pacaran trus mau ga mau dinikahkan karena hamil, kan… Nah lihatlah mereka sebagai suami istri muda. Yaa dari segi wajah polos, tapi ya inilah contoh remaja menikah.

Dua Garis Biru Review

Jadi jangan lagi ada celaan, Itu masih senden2an berdua di ranjang.” Iya memang mereka masih remaja, tapi di ceritanya sudah menikah di film ini. “Tapi kan, pemainnya gak bener-bener nikah.” Yaudin lah ya.. itu urusan mereka sebagai public figur. figur percontohan. Doakan saja mereka tidak seperti di filmnya. Be wise, okey?

 

Kekurangan

Ada bagian ganti frame tidak mulus. Misal adegan ngobrol, posisi duduk berdua. Pas ganti frame posisinya udah tiduran. Trus juga pas Zara melahirkan, wajahnya kurang menjiwai, hehe.. nggak kaya wajah saya pas melahirkan, haha!

 

Tips

Kalau memang bener-bener nggak mau dan jijik lihat adegan sepasang sejoli ini tapi tetep pengen nonton, silakan masuk ke bioskop 1-10 menit setelah film baru diputar. Karena adegan yang 2% itu cuma di awal saja. Sisanya, duduklah dengan tenang, silakan simak baik-baik.

Ohya, siapkan tissue juga ya…

Dua Garis Biru

 

Panjang sekali ya review ini. Agak serius pula haha… Pasti abis ini banyak yang komentar pro kontra deh. Gapapa.. saya terima 🙂

Ohya ada dialog yang bagus menurut saya. Saat sudah kejadian, Ibu si laki bilang, “Padahal dulu kalau kamu nonton tivi ada adegan ciumannya, ibu tutup matamu.” Lalu si anak laki tersenyum sambil bilang:

“Memangnya Ibu bisa ciuman sama Ayah karena nonton ciuman dulu?” Kemudian mereka tertawa kecil. Ya sama kaya nonton film ini. Apa iya lantas anak-anak remaja jadi berbondong-bondong sex di luar nikah sampe hamil? Siapa hang hamil duluan, dia yang keren. Gitu kah?

 

Catatan:
Saya seorang Ibu dari 1 anak perempuan.

780 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

BACA JUGA

30 Comments

  1. Sofa says:

    Kali pertama nonton trailer nya malah ingat webtoon “young mommy” hehe, kirain film ini dibuat dari cerita webtoonya thailand itu. Tapi jujur gak pernah merasa kalau film ini membawa efek negatif sih. Harusnya justru malah menambah wawasan mengenai sex diluar nikah. Jadi pengen nonton, hehehe

    Good review kak Vind 😀

  2. Aku sendiri merasa perlu mengajak anak-anak untuk nonton film ini kemudian diskusi. Bukan serta merta menbiarkan mereka mencerna sendiri dan mencari solusi atau kesimpulan sendiri sih. Daripada melarang nonton mending amprokin aja sekalian, diskusi as friend.

  3. Aku penasaran banget ini Pind, awalnya trailernya kok gitu hehehe
    aku tuh pas nonton ini kayak dejavu, ada pernah film beginian aku tonton lupa tapi
    Ntar aku cek ah, ke XXI Pekalongan sudah ada belum. Soalnya sini sering telat tayangnya

  4. Tentu saja dia tidak menjiwai mbak dianya, soalnya dia kan belum pernah merasakan melahirkn langsung seperti mbak Vindy . Saya blm pernah nonton film ini. Jadi penasaran dehdgn ceritanya

  5. Seram anak hamil di luar nikah. Karena orangtua menutupi dan tabu di bicarakan.

    Kalau sudah kejadian mereka menyesal.

    Dua garis biru akan mengajarkan dampak yang terjadi saat mereka menikah Tanpa di barengi ekonomi mapan ataupun kesiapan hormonal.

    Intinya berpikir sebelum berbuat. Ajak anak jangan sampai melakukan ini

  6. Jadi inget pas booming film remaja yg menunjukkan keinginan utk menunjukkan prestasi itu loh, duuhh lupa namanya. Dulu juga dianggap memprovokasi anak untuk berani ke orang tuanya. Duuhh memang ya jamannya netizen hobi negatif thinking duluan.
    Sama kayak film ini, yg meskipun ada kekurangan di sana sini sebenarnya punya misi untuk menjauhkan generasi muda jaman sekarang dari hal-hal yg mungkin timbul dari efek pacaran yang sampai melakukan hubungan seksual.

  7. Udah nonton, tapi belum sempet review, intinya sih orangtua harus berani bicara tentang seks dan alat reproduksi pada anak ya

  8. Dinyinyirin karena trailernya yang cuma 2% itu ya wkwk… Aku pun pas nonton trailernya ya agak menyipitkan mata, tapi gak mau ngejudge sebelum nonton filmnya. Sebab, trailer itu kan potongan adegan yang menarik orang untuk nonton.

  9. Barusan aja bahas sama suami soal dua garis biru, aku yg udah selow mau nonton eh dia masih skeptis nih. Tp dari review ini ak jd belajar, ya benar kita ga boleh nyinyir karya org lain lho.

  10. Lily Kanaya says:

    Lagi pada ngomongini ini di grup wa arisanku juga mba, pengen sih nonton tapi mungkin nanti aja ketika lagi nggak sama anak 🙂

  11. Aku nonton sekeluarga dengan dua anak gadisku bareng ayahnya. Malah anakku yang sengaja ngajak nonton bareng karena menurut dia film ini bagus banget kalau ditonton bersama orangtua. Dan ternyata benar, film ini bagus banget, banyak pembelajaran didalamnya

    1. Wah, anaknya pinter yah… semoga anakku juga bisa terbuka nantinya 🙂

  12. Film ini mengajarkan penting sekali mengetahui sex sejak dini jadi mereka akan tahu konsekuensi dari perbuatannya

  13. Kalau nonton ini emang pas banget ama anak remaja, mba. Mereka juga jadi tahu karena kita dampingid an ceritakan dengan baik. Pembelajaran ini harus kita lakukan ke anak.

  14. belum nonton bioskop lagi sejak abis lahiran, huhu. oiya ini kedua nama tokohnya siapa? saya lupa lagi deh. pernah baca di review lainnya katanya keduanya ni sobatan loh, bukan pacaran. mana yg bener yaaa

  15. Ini tuh film yang lagi ramai dibicarakan dibeberapa group yang aku ikuti, kalau aku sebenarnya penasaran pengen nonton sih. Karena beberapa teman yang sudah nonton bilang ini wajib ditonton.

  16. aku udah nonton film ini jugaaa, di hari pertama penayangan ga kebagian tiket sama sekali nih, wota memang juara sih ya hihii, aku seneng sama film ini karena lebih fokus menyorot cara penanganan setelah kejadiannya ya

  17. Bnyk pro dan kontra ya , mngkn salah paham pas liat dr trailer nya doang . Kmrn smpet bahas pilm ini jg sama tmn kantor haha

  18. Lagi pengen banget nonton film Dua Garis Biru yang lagi hits ini pertama kali liat trailernya udah penasaran
    Wajib ditonton ini!

  19. Sebenernya ini alur cerita mya bagus ya.. apalagi ada pesan yg mendalam. Tp kadang org kepikiran negatid dluan. Jd ga bisa ambil yg positif nya

  20. ini sebenarnya film bagus, tapi banyak orang yang belum tahu isinya udah main sebarin berita ga bener 🙁 aku pengen nonton tapi nunggu ada di Viu aja deh biar ga usah ninggalin anak, soalnya anakku masih kecil

  21. Ahhh same thought! Aku juga menyayangkan adegan nikah pas hamil itu, tapi aku nangkepnya mungkin pembuat film ambil contoh dari kenyataan di lapangan. Mauku sih ikut dilurusin kalo selepas melahirkan kudu ijab ulang atau gimana

  22. Smnjak sering nnton film luar, aku ga pernah lagi nnton film indonesia. Hehe. Tapi baru liat trailer dan baca review ini, film ini emang menarik terutama dari segi moral.

  23. Ihhh jadi pingin nonton beneran deh…

    Emang benar semua itu pasti ada sisi positif dan negatifnya, tinggal kitanya saja yang pinter pinter milih,
    kita sudah diberi otak akal hati kalau masih milihnya yang negatif ya salah orangnya saja, bukan objeknya. Noted itu!

  24. Semakin banyak review “nyinyir” aku malah semakin pengen nonton loh hahaha salut banget aku di Indonesia ada yang produksi film ini. Dulu aja nonton Juno udah banyak yang resah. Thanks ya Mba review-nya. (:

    1. Btw, Jenny Junno gak sama ceritanya kok. Cuma temanya doang hamil di luar nikah, tapi isinya sama sekali bueda puool… Bagusan ini. Karena pesan moralnya banyak. Jenny Junno mah malah nyeritain keromantisan dua sejoli. Gak ada tekanan psikis yang berarti

  25. jadi pengen nonton. saya setuju semua film itu pasti ada plus dan minus, tergantung dari sipenonton. kalau film khusus anak diatas 20 th tapi orang dewasa menyikapi isi bagian negatif tersebut dijadikan contoh baru salah. sebenarnya tergantung dari penonton yang menilai. Kalau tontonan remaja begini harusnya harus bareng sama pendamping biar remaja atau anak-anak gak salah kaprah.

  26. Semoga konflik yang terjadi semakin menaikkan rating film ini sehingga makin banyak yang penasaran dan tertarik untuk menyaksikan langsung ketimbang dari hanya “katanya-katanya” atau sekedar menarik kesimpulan dari thrillernya saja.

  27. Wahhh jadi pengen nonton juga, sayangnya saya masih di “kampung” yang gak ada bioskopnya nih, belum diizinin jalan jauh, apalagi ke kota “hanya” untuk nonton film ini, huhuhu

    Dari trailernya memang bikin penasaran dan udah kelihatan banyak pesan moral di film ini, kok.

  28. Makinlah aku tergoda untuk nonton. Semoga ada kesempatan. Kalaupun belum, kudu sabar nungguin kemunculannya di aplikasi nonton seperti Viu atau Hooq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.