REVIEW: Novel Penjaja Cerita Cinta oleh @Edi_Akhiles

Wednesday, 25 December 2013

REVIEW: Novel Penjaja Cerita Cinta oleh @Edi_Akhiles

-------------------------------------
Judul: Penjaja Cerita Cinta (Kesetiaan, Rindu, Perpisahan, dan Kenangan – cerita-cerita yang tak terduga)
Penulis: @edi_akhiles
Penerbit: Diva Press
Tebal Halaman: 192 Halaman
Catatan: Buku Dewasa
Lama Membaca: 1 Hari
Harga: Rp 35.000,00
 -------------------------------------


Awalnya saya tidak punya pendapat khusus mengenai buku ini. Dari judulnya Penjaja Cerita Cinta, jujur saya belum, bahkan, tidak punya bayangan isinya seperti apa. Dari covernya pun masih  merasa gagal tafsir mengenai buku ini.

Jika saya harus me-review sebuah buku sampai tuntas dan hak sepenuhnya jatuh kepada saya, maka saya akan memberikan perhatian khusus pada buku tersebut. Review saya tidak kaku dan santai seperti mendiskusikan sesuatu di blog. Review saya cukup panjang sebab saya menikmati semua judul cerita dan saya memiliki kekaguman yang berbeda-beda. Semoga tidak berhenti untuk membaca review saya. ^^

Terdapat 15 cerita pendek (cerpen) pada buku #PenjajaCeritaCinta ini. Saya suka semua isi ceritanya. Karena setiap cerpen yang disuguhkan memiliki nilai inspiratif yang luar biasa menggugah hati ini untuk membuka pengetahuan baru atau sebagai cerminan diri untuk introspeksi. Dari masing-masing cerita itu akan diulas sedikit lebih detail sebagai berikut:


Penjaja Cerita Cinta (Tentang seorang laki-laki yang menjadi penjaja cerita cinta pada wanita yang masih setia dengan rindu dan kenangan masa lalunya)
Mungkin cerpen ini yang lebih banyak saya ulas karena beberapa alasan yaitu; judul cerita ini yang menjadi judul buku, cerita yang paling panjang daripada ke-14 lainnya, ceritanya sangat menarik untuk disesapi maknanya.




Ketika saya membaca setting dan ilustrasinya, mengingatkan saya pada reality show Mister[i] Tukul Jalan-Jalan karena dalam cerita menceritakan suasana kerajaan yang kental dan klasik. Diperkuat dengan gambaran acra Ganesha. Membuat imajinasi saya langsung menggambar relief seperti yang ada di candi pada umumnya. Bapak Edi berhasil membangun imajinasi saya akan hal itu.

Ceritanya unik. Alurnya maju-mundur dan menggunakan sub-judul dan baru kusadari sub-judul ini merupakan anak judul dari Cerpen ini. Bapak Edi membuat saya menebak-nebak maksud jalan cerita. Penulis seperti pendongeng dengan diksi yang begitu indah dan masih sangat mudah saya pahami.

Namun beberapa kekurangan cerita ini ada beberapa. Yaitu beberapa loncatan cerita yang tidak dipisah secara adil sehingga saya kebingungan. Awalnya menceritakan Nyonya Sri, tiba-tiba penulis menarasikan ‘cerita cinta’-nya tanpa tanda pemisah sebagaimana loncatan-loncatan agar bisa terlihat.

Ide cerita yang dibangun sangat kreatif karena seolah Bapak Edi ‘menantang dirinya sendiri’ untuk hal Senja dan senja. Namun hal tersebut menjadi sebuah kunci kemudahan bagi bapak Edi untuk mempermainkan diksi dengan analogi yang dituturkan. Yaitu senja penunjuk waktu dari terang menuju gelap dengan Senja nama orang yang memiliki karakter sendunya yang kuat. Endingnya surprise sekali. Kalimat terakhir yang seolah merangkul ketiga sub-judul yang dibuat. Sangat bermakna dan #jleb. ^^


Love is Ketek! (Tentang cowok yang punya cewek sentimentil, tersinggung gara-gara teguran ‘ketek’, garis besar: cowok susah memahami cewek)
Paragraf pertama serasa langsung manuver. Gaya bahasa dari cerita pertama ke cerita kedua ini sangat berbeda. Tetapi pembukanya seru. “Oke fine!” -nya pas banget nempatinnya (Favorit di hal. 5) Ceritanya kocak dan menyenangkan. Seperti penyegar dari sendu-nya cerita satu.


Cinta yang Tak Berkata-kata (Tentang cewek yang punya cowok tidak bekerja, dan sudah bosan dengan pemberian puisi selama 3th)
Tokoh utama cewek yang ceritanya cukup membuat sentilan kepada cowok-cowok yang berani ngajak kencan cewek tetapi tetap harus modal dong. Hehe. 

Endingnya menimbulkan multi tafsir. Ada dua yang menjadi tafsiranku; Itu beneran mau beliin Villa karena ternyata si cowok orang kaya, atau itu hanya candaan belaka? Dan Bapak Edi sepertinya sengaja membiarkan pembaca yang menentukan. Saya suka cara Bapak Edi menutup cerita ini. ^^

Namun ada diksi yang agak aneh bacanya, ‘serpihan ludah’ pada halaman 53 itu bagaimana bentuknya yah? Ludah berbentuk serpihan? Kenapa tidak percikan? Ludah bentuknya cair bukan bentuk padat kan? Semoga ini kekhilafan semata. :)

Ada kalimat yang kusuka, “Jika aku mau, inilah sesungguhnya mandala terbaik buatku untuk menyerangnya. Tapi bukankah ia kekasihku, bukan musuhku? Bukankah menyerang kekasih dengan dalih apapun sama halnya dengan menyerang hatiku sendiri?” bagi saya itu adalah #jleb banget.


DIJUAL MURAH SURGA BESERTA ISINYA (Tentang rahasia masuk surga dari penjual yang tidak jelas di Borobudur)
Selain Penjaja Cerita Cinta, cerpen ini juga menjadi favorit saya. Kisah pribadi (mudah-mudahan benar) yang sangat menginspirasi bak bercermin di air. Melihat diri sendiri yang tidak jelas sempurna sebab gelombang airnya. Artinya, saya seperti melihat diri sendiri yang belum bisa ‘dengan mudah’ bersedekah untuk tabungan surga.


MENGGAMBAR TUBUH MAMA (Tentang nostalgia Mama dari tokoh utama yang mati terpenggal)
Baca paragraf pertama bikin pengen muntah dan merinding. Ada suspense thriller-nya yang sebenarnya membuat saya semakin tertarik meski nggak tahan bayangin kepala terpenggal di dalam cerita. Hal ini dengan natural membuat imajinasi saya menggelanyar kepada mama saya sendiri. Sangat menyentuh hati namun kekurangannya adalah seperti masih belum tuntas diceritakan. Belum jelas bahagaiman kelanjutan hidup anak laki-laki itu. Kasihan sekali. :(


SECANGKIR KOPI UNTUK TUHAN (Tentang Bapak Edi yang begitu berduka atas kepergian Simonceli)
Saya tahu ini adalah kisah duka yang mendalam dari diri Bapak Edi. Namun saya justru memandangnya ada sedikit sense humor yang secara natural tercipta. Ke-extreme-an duka Bapak Edi ketika menyaksikan kematian Simoncelli ini agak lebay yang sebenarnya lucu. 

Beberapa perdebatan dengan kakak dan istrinya yang akhirnya tetap kekeuh dengan menenteng kopi yang katanya untuk Tuhan, pada akhirnya diminum oleh orang lain yang sambil mengacungi jempol.

Nilai inspiratif tercipta ketika Bapak Edi yang belum terima seolah marah kepada Tuhan hingga akhirnya ia khilaf dan tidak seharusnya ia memarahi Tuhan atas takdir yang sudah terjadi. Saya suka cerita ini. ^^


TAK TUNGGU BALIMU (Tentang teman Pak Edi yang suka ngatain Pak Edi tapi akhirnya malah senjata makan tuan)
Baca judulnya teringat Bapak Edi yang dulu ‘memang’ heboh dengan lagu ini. Saya belum tahu lagunya, dan di saat saya baca ini langsung ambil gadget lalu mendownload lagunya. Bagus sih lagunya, tapi saya lebih suka oplosan. Hehe. Kisahnya konyol. Saya ikut senyum-senyum. Nyambung banget sama lagunya. Kreatif banget deh!


CINTA CANTIK (Tentang tokoh utama [Pak Edi?] dapat email isi foto cantik dan langsung jatuh cinta sampai kebawa mimpi)
Meski endingnya lagi-lagi rasanya belum tuntas alias belum puas siapa sih cewek cantik itu sebenarnya dan mungkinkah akhirnya berkenalan, serta kenapa dapat email itu belum terungkap, tapi paling tidak dapat menjelaskan bahwa cinta sejati itu susah di dapat.


TAMPARAN TUHAN (Tentang cerminan diri dari segala hal yang diperbuat)
Ceritanya membuat saya introspeksi. Namun saya dibuat menjadi beralih paham. Awalnya saya paham dengan ‘ini’ kemudian mendadak saya sepaham dengan ‘itu’ dijelaskan dalam hal. 115. 

Ada dua halaman penuh yang kisahnya sangat persis dengan saya pribadi. Saya merasa cucoookk dengan hal tersebut. :D


ABAH, I LOVE YOU... (Tentang nostalgia Bapak Edi dengan Abahnya)
Kisahnya sangat menyentuh dan saya menjadi menyadari sesuatu tentang jerih payah orang tua. Saya menjadi malu pad diri saya sendiri. Cerita ini sangat menginspirasi dan membuat saya semakin sayang kepada ayah saya.


CERITA SEBUAH KEMALUAN (Tentang analogi kemaluan dengan hakikat manusia)
Judulnya memang agak geli. Saya yang baca pembukaannya saja geli. Tapi saya betah membaca dan saya ‘terpuaskan’ dengan analogi yang Bapak Edi tuturkan dan itu masuk akal sekali. Manusia memiliki satu kemaluan agar manusia berhati-hati dalam bertindak laku.


MUNYUK! (Tentang seorang istri yang sudah tidak dicintai oleh suami, lalu ditinggalkan)
Sepertinya ini fiksi. Saya jadi ikut merasakan begitu pedihnya menjadi istri yang dicampakan. Namun ini ketiga kalinya Bapak Edi seperti memutuskan cerita begitu saja. Dan masih belum jelas perihal alasan suami meninggalkan istri. Ini jelas sangat menjadi pertanyaan. Ada apa?


LENGKING HATI SEORANG IBU YANG DITINGGAL MATI ANAKNYA (Tentang Ibu yang sedih karena anaknya meninggal, lalu ikut meninggal juga)
Cerita tentang kasih ibu yang begitu tulus. Menyentuh dan pesan cerita sangat sampai karena penuturannya yang tersurat. Tetapi cerita menjadi agak ganjil ketika anaknya baru meninggal dan ibunya ikut meninggal saat itu juga. Jadi ini ceritanya dalam satu hari terjadi kematian dua orang begitu ya? 
Tetapi saya menjadi ingin lebih menyayangi Ibu saya setelah membaca ini. :’)


AKU BUKAN BATU!! (Tentang si Aku yang tak mau jadi Batu karena memiliki perasaan dan kebingungan tentang kekekalan)
Ceritanya menginspirasi dan saya menjadi memiliki pengetahuan baru tentang analogi batu sebagai benda yang tak memiliki perasaan. Saya selalu suka analogi yang dipakai Bapak Edi.


SI X, SI X, AND GOD (Tentang mengenal diri sendiri dari mindset tentang Tuhan)
Baru kali ini saya menemukan cerpen isinya hanya dialog. Tapi menarik. To the point dan saya pun terkadang memiliki pertanyaan-pertanyaan serupa dari percakapan dialog tersebut dan langsung terjawab tanpa basa-basi. Konsep ‘hanya dialog’ cukup unik dan tidak jelek. 


Over all, saya sangat mengagumi dan sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Isinya ‘berisi’, 'aku banget' dan selalu mendapat sebuah pencerahan yang berarti. Kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya merupakan sifat manusia yang tidaklah sempurna.

Setelah membaca kumpulan cerpen karangan Bapak Edi ini saya menjadi semakin tahu karakteristik beliau dalam menulis cerita. Yaitu cerita yang jujur, suka memainkan diksi, menganalogikan sesuatu, suka menggantungkan cerita, dan bahasanya tidak berbelit meski menggunakan banyak diksi. Saya menimkatinya! :D

Ohya, di akhir kita diberi tips dan mendasar tentang kepenulisan. Lumayan menambah ilmu dalam menulis. Dapat inspiratifnya dapat pula ilmunya! Saya mampu menyelesaikannya dalam satu hari, maka saya menikmati buku ini. Akhir kata, saya tutup review buku ini dengan kutipan dialog favorit saya pada buku ini (hal. 177).
...
“Bagaimana ya hati memberitahumu?”
“Kan hati memang menyimpan nurani, nah nurani itu menyuarakan angel.”
“Itu suara Tuhan!”
“Hati adalah suara Tuhan?”
...


3 comments :

  1. judul2 cerpennya lucu2 ya :D eh tapi ternayat ada misterinya juga

    btw, potomu kayaknya mudaan deh Vin :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asik aku dibilang mudaaa :D
      Iya judulnya emang keren-keren Tha. Kamu harus baca nih!

      Delete
  2. Makin cntik aja kmu vin.. hehe
    Moga smakin maju blogmu vin.

    ReplyDelete

Jejakkan komentar, saran, kritik, dan pertanyaan melalui Contact atau komentar di bawah ini. Gunakan komentar Facebook (di atas) jika ingin mendapat notifikasi balasan langsung dari Facebook. Atau bisa juga dengan akun Blog/Gmail.

Terima kasih berkenan membaca dan mampir di Vindy Pindy Mindy.
--- www.vindyputri.com