REVIEW A Man Called Ahok - Alasan Ahok Terjun Politik

REVIEW A Man Called Ahok - Alasan Ahok Terjun Politik

NO SPOILER – Film A Man Called Ahok ini cukup banyak membuat saya menahan tangis. Meski beberapa adegan akhirnya air mata jatuh juga. Ya gimana nggak nangis kalau urusannya sama keluarga. Di film ini lebih condong bersama Ayah. Tapi ya sesekali ketawa sih… ada lucunya. Ini cocok sih ditayangin di masa hari ayah yaitu tanggal 12 November. Meski tayangnya 8 November. Hehe…

 

❤ Didikan Keras Ayah

Di film ini menurut saya lebih kepada film keluarga. Kuat sekali hubungan antar anggota keluarga. Terutama Ahok dengan kedua orang tuanya. Tapi saya rasa, karakter yang paling kuat bukan pada Ahoknya. Menurut saya, bintang di film ini justru Ayahnya. Ahok di sini adalah hasil didikan Ayahnya.


 Tapi tetap Ahok yang jadi perhatian ketimbang anak-anak lainnya. Ya namanya juga film A Man Called Ahok  tapi karena memang Ahok itu anak tertua. Dia lebih banyak tahu kegiatan dan kerjaan Ayahnya yang sebagai pengusaha timah yang sangat dermawan. Rela menghutang demi orang lain yang susah. Orang minta bantuan (duit), Ayahnya selalu kasih. Bahkan uang sekarat pun, dia rela ngutang hanya supaya anak orang bisa sekolah. Ayahnya bakal sedih banget sampai menangis ketika beliau nggak bisa bantu apa-apa untuk orang yang lagi butuh bantuan.

 

Baca Juga Review Film SUZZANNA – Nggak Nakutin Tapi Menegangkan!

 

Porsi Istri atau Ibunya Ahok cukup penting juga. Ya sekarang gimana deh, suaminya hobi ngasih uang ke orang yang butuh bantuan. Ya kalo duitnya ada. Kalau duitnya habis untuk bantu orang lain? Bahkan sampai duit belanja buat besok aja nggak ada gimana? Istri mana yang nggak pusing/ngambek? Peran Ahok masa kecil cuma banyak diem dan ngamati.

 

Banyak petuah-petuah Ayahnya yang sarat makna. Dalem sekaligus bikin kita melihat ke diri sendiri. Konflik bukan datang dari orang lain atau oknum saja. Tapi dari dalam keluarga juga iya.

 

❤ Ada Unsur Politik?

Iya, ada. Tapi bukan dia kemarin di partai apa, siapa koalisinya, dan bukan angkat kasus penistaan kemarin.  Atau mengajak kita kudu dukung siapa. Atau ada pembenaran dari insiden kemarin? Tidak. Ini tentang apa alasan beliau akhirnya terjun di politik. Dia punya misi. Misi mulia. (Nonton filmnya ya biar tahu )


 

❤ Nggak Semua Bisa Ditiru

Di film ini, bahas politik hanya sedikit banget. Lebih banyak adegan didikan Ayahnya. Dan ini sangat bisa dijadikan pelajaran buat kita. Bisa ambil mana yang bisa kita contoh, mana yang enggak.

Untuk menjadi seorang Ahok dengan didikan seperti Ayahnya, belum tentu bisa diterapin di kehidupan kita. Apalagi orang yang enggak bisa atau nggak biasa dikerasin. Deuh, pasti ngerasa kehidupan keluarga mereka bakal bersitegang mulu. Bakal nggak suka dengan tipe orang seperti mereka.

Padahal mereka keras dan bisa kasar hanya ke orang yang nggak bener.

Trus lagi, cara Ayahnya memimpin perusahaannya dan cara Ayahnya menolong orang lain dengan berhutang itu juga menurut saya gak bisa dicontoh sih. Ya kebetulan kan yang diutangi bukan lintah darat alias teman sendiri berazaskan kekeluargaan dan alasan kemanusiaan. Utangnya banyak tapi seperti nggak punya utang. Begitu sebaliknya, yang diutang banyak duit seperti melupakan piutangnya. Saya yakin cara seperti itu hampir nggak bisa dilakukan di banyak tempat. Hehe…

Tapi cara Ayahnya mendidik kejujuran, melayani orang yang butuh bantuan dengan tulus, menegakkan hal yang benar dan takut kalau berbuat salah, itu patut kita contoh.

Ya sekarang, siapa sih yang berani ungkap hal yang salah. Apalagi kalo kita malah dapat bagian keuntungan? Padahal bukan dari jerih payah kita. Kita mah dapat ‘jatah‘ dibilang rejeki. Padahal nggak ngapa-ngapain. Trus sambil bilang, “Rejeki anak soleh…” sambil diem-diem atau bilang, “Hal kaya gini udah biasa… Sayang kalau nggak diambil…” hahaha ya kan? Ya kan? Giliran udah kerja keras tapi bayaran/bonusnya kecil nggerundel sendiri bilang nggak adil. Hahaha…

Soalnya saya ya pernah begitu,  trus mutung, nggak mau ngelakuin capek-capek lagi kalo nggak adil. Ngerasa kapok. Wkwkwk… siapa nih yang gini? Cung! Biar saya ada temennya hahahahaha 

“Nanti kalau nak berburu harimau, ajak saudara sekandung, kalau kite dikelilingi harimau ganas yamg siap-siap menerkam, kemungkinan orang-orang seperburuan kite nak lari menyelamatkan diri sendiri. Walaupun resikonye negare kite yang diserang harimau. Tapi kalau ajak saudara sekandung, walau diserang harimau ganas, tetap die tak kan lari. Karena kalau lari, berarti kehilangan saudara sekandung.”

 

❤ Tau-tau Ada Peran Veronica

Menurut saya ini kurang detail. Tiba-tiba sosok Veronica muncul. Hanya 1 lokasi. Lah? Menikahnya kapan? Perannya memang cukup penting. Tapi menurut saya ini sayang banget. Padahal pemeran Veronica mirip loh. Hihi…

 

❤ Semua Wajah Nyaris Mirip

Bisanya nih, kalau film yang nyeritain tokoh/seseorang kan diupayakan mirip seperti orang aslinya nih, kecuali film Danur, hehe! Nah, di film ini nyaris mirip. Ahok kecil lumayan mirip. Ketika dewasa juga. Bedanya muka ahok asli kan agak bulet ya, yang diperanin Daniel Mananta kan lebih lonjong hehe… tapi nggak cuma Ahok, peran Ibu, Ayah, dan Adik-adiknya juga mirip. Kecuali adik perempuannya. Jadi ngerasa seru aja sih… 


❤ Enjoy Nontonnya

Asli ya, film ini alurnya lembut sekali. Bisa merangkum banyak adegan dan waktu yang membuat aku ngerasa film ini lamaaaaaaaaa banget. Pengambilan gambar juga bagus. Kostum sesuai jamannya. Adegan per adegan tuh alurnya nyambung dan nggak bikin kita mikir. Meski dari segi bahasa logatnya orang-orang Belitung, tapi meski nggak pake baca text saya paham. Kecuali pas bahasa mandarin, saya kudu baca text hehe…

Malah saya sangat suka sekali film yang angkat daerah di Indonesia dengan logatnya yang khas. Saya nggak tahu itu bahasa apa. Entah melayu, entah apa. Pokoknya masih bisa saya pahami tanpa mikir. Bahasa Belitung lah gampangnya 

Padahal film ini cuma 1 jam 40 menit. Tapi rasanya lama sekali… Beda dengan film Chrisye, maksudnya nampilin adegan-adegan penting, tapi kasar banget. Tau-tau begini, tau-tau begitu. Dan itu nyaris sepanjang film, loh! 2 jam ngerasa singkat.

 

Baca Juga Review Film CHRISYE – Istri yang Selalu Positif Thinking

 

Nah di film ini, aku ngerasa lama saking menikmatinya. Alurnya alus. Kecuali bagian itu tadi. Tau-tau sudah ada Veronica. What? 

 

❤ Ending Kurang Puas

Buat saya, endingnya kurang memberi kesan. Kecuali tayangan foto-foto asli keluarga mereka. Ya itu tadi, mendadak dipercepat bagian Politiknya. Karena memang bukan politik sih yang mau diangkat. Malah jadi rasa komedi pas Ahok lagi kampanye. Haha! Mungkin sebagian orang juga bakal kecewa. Yang ditunggu-tunggu pasti:

  • Adegan yang katanya melakukan penistaan
  • Adegan yang katanya ada perselingkuhan
  • Adegan marah-marah yang sampe ngumpat
  • Adegan Ahok bekerja sebagai Bupati yang berhasil bangun ini itu dll.

 

Ye tak?

Tujuan akhir film ini bukan sebuah kesimpulan kehidupan. Atau akhir dari kehidupan seseorang. Karena orangnya masih hidup. Dan kehidupannya masih terus berjalan. Perjuangannya belum selesai. Tapi di sini kita diajak untuk melihat sisi lain Ahok. Sisi di balik layar yang membentuk karakter beliau yang begitu. Sifatnya yang keras terhadap oknum nakal. Jangankan oknum, ketika Ahok kecewa dengan sahabatnya, dia bisa keras ketus dan nohok kalau ngomong.

 

❤ Introspeksi

Gini deh… Sama seperti kita yang begini adanya. Kita pasti punya masa lalu, punya masa kecil dan pengalaman dari didikan orang tua kita dengan caranya masing-masing. Kita bisa jadi orang lemah, jadi orang cuek, jadi orang yang tidak bersyukur, jadi orang yang suka mencela, jadi anak yang susah diatur, jadi orang idealis, jadi orang keras kepala, jadi orang yang selalu melihat keburukan atau kelemahan orang, jadi orang yang selalu positif, terbiasa hidup mandiri, menjadi orang yang pantang menyerah, tahan bully-an, atau malah kuat dengan terpaan itu tuh dulunya kita besar dengan cara seperti apa? Bagaimana lingkungannya? Bagaimana dukungannya? Bagaimana motivasinya? Itu semua setiap orang berbeda. Dan di Film ini, kita diajak kenal dengan apa, siapa, dan bagaimana seorang laki-laki bisa dipanggil Ahok yang kita kenal sekarang.

Jauhi contoh-contoh dalam film ini jika memang menurut hati nurani terhalus kita itu tidak baik. Dan sebaliknya… nilai-nilai mulia silakan ambil pelajarannya… Itu pun kalau kita mau ambil sisi positifnya, sih. Kalau nggak mau ya udah… buat hiburan aja… hehe… repot amat jadi orang. 

Kita tidak bisa memilih terlahir seperti apa, tapi kita bisa memilih mimpi kita.

– A Man Called Ahok

 

Baca Review Film Lainnya

Sumber gambar : Google

Previous
Next Post »

Jejakkan komentar, saran, kritik, dan pertanyaan melalui Contact atau komentar di bawah ini. Gunakan komentar Facebook (di atas) jika ingin mendapat notifikasi balasan langsung dari Facebook. Atau bisa juga dengan akun Blog/Gmail.

Terima kasih berkenan membaca dan mampir di Vindy Pindy Mindy.
--- www.vindyputri.com ConversionConversion EmoticonEmoticon