Seberapa penting Klaim Produk Sebelum Beli Skincare?

Seberapa penting Klaim Produk Sebelum Beli Skincare?

Tahun 2022, aku pernah ikut sebuah komunitas dari sebuah brand skincare terkenal di beberapa tahun terakhir. Aku tidak bisa sebutkan brand apa itu, tapi brand ini viral dan masih jadi kecintaan semua umat.

Dimulai dari isi form data diri, lalu harus membaca Syarat & Ketentuan jika nanti salah satu member di komunitas ini. Komunitas ini bersifat RAHASIA. Aku harus tanda tangan persetujuan bahwa aku berjanji tidak memberikan keterangan apapun di khalayak umum mengenai produk brand mereka.




Ya, aku sebagai Consumer Tester di sebuah brand skincare. Ketika brand tersebut hendak mengeluarkan varian produk, aku berkesempatan untuk mencoba sample beberapa hari misal seminggu, dua minggu atau sebulan sesuai dengan karakter produk yang diterima.

Tentunya aku sudah memberikan data mengenai kondisi dan permasalahan kulitku. Yang kemudian mereka menawarkan kepadaku untuk mencoba calon produk baru mereka. Mereka tidak menyebutkan nama produk dan kandungannya. Mereka hanya berfokus pada permasalahan kulitku saja. Nanti mereka akan menghubungi aku lagi untuk dilakukan wawancara oleh perusahaan riset konsumen.

Aku harus menjawab dengan jujur, apakah produk yang kucoba ini berhasil dikulitku atau tidak. Apakah ada efek lain? Saran untuk mereka, dll.

Hasil dari pengalamanku ini tentu menjadi input mereka dalam menentukan KLAIM PRODUK yang bisa digunakan sebagai media promosi mereka. Seperti:






Perusahaan yang bergerak di bidang evaluasi produk kosmetik dan riset konsumen ini menurutku sangat dibutuhkan. Harusnya semua perusahaan kosmetik menggunakan bidang keilmuan spesifik kefarmasian sebagai pendukung klaim produk. Ini bisa jadi kekuatan untuk mengiklankan produknya. Meski faktanya memang tidak semua orang percaya dengan klaim yang diberikan. Tapi itu cukup membantu consumer, ya kan?

 

SKINPROOF

Kali ini aku mau mengenalkan SKINPROOF (PT. Derma Lab Asia), yakni sebuah anak perusahaan dari Arya Noble (perusahaan top holding strategis investasi di Indonesia) dengan fokus ke farmasi, obat-obatan, yang paling tidak bisa diaplikasikan atau dikonsmsi oleh manusia. Erat kaitannya dengan kosmetik dan kecantikan.

Bisnis utama dari Skinproof adalah dengan dermatology test yang terintegrasi dengan consumer research serta produk testing lain untuk mendukung industri kosmestik skincare.


Sasaran Skinprioof

💙 Para perusahaan atau yang memiliki sebuah produk seputar farmasi kosmetik kecantikan.
💙 Consumer insight dengan Skinproof ada di tengah-tengah pihak Brand produk dan konsumen. Dia menjembatani seperti, bener ngga sih klaim yang brand tersebut tawarkan. Misal: ‘Meredakan jerawat‘. Produk tersebut dites langsung ke consumer yang punya concern jerawat. Setelah mendapatkan hasil tes, mereka akan mendapat sebuah kesimpulan yang nantinya menjadi sebuah evaluasi.
💙 Klien yang butuh mengetes sebuah produk industri kosmetik. Bener ngga sih, produk A ini mengandung 1% AHA? Bener ngga sih, produk ini bebas merkuri? Tes di Skinproof.
💙 Atau klien yang butuh layanan konsultasi dan regulasi bidang kosmetika bisa langsung konsul ke Skinproof.

 

Manfaat Skinproof

Skinproof ini sangat membantu dari dua pihak, yakni bagi sebuah brand akan lebih dipercaya,. Ia juga semakin yakin dan percaya diri bahwa produknya benar sesuai dengan klaimnya. Atau bisa menjadi bahan evaluasi jika ternyata tidak sesuai dengan klaimnya.

Bagi para konsumen menjadi lebih mudah untuk memahami bahwa produk ini bisa mengurangi jerawat 90% loh! Kandungan utamanya ada BHA-nya! Artinya dari klaim tersebut dia punya harapan bisa mengatasi jerawatnya dengan bantuan data yang bisa dipercaya.

 

 Pengalaman Aku Sebagai Pemakai Kosmetik

Sejujurnya aku hingga saat ini masih sangat kesulitan menemukan produk yang sesusai dengan jenis kulitku. Ada sih pengalaman aku datang langsung ke dokter kulit Sp.KK. Aku mendapatkan obat minum, salep dan treatment yang sesuai untuk kulitku yang berjerawat.

Semua itu berdasarkan resep dokter ya. Berhasil sih…, tapi itu kan tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Tentu aku pengen beli produk yang ada di pasaran. OTC (over the counter). Nah, tentunya produk tersebut itu isinya tidak murni, maksudku pasti ada campuran kandungan lain. Bisa sedikit, bisa juga banyak.

Misalnya di dokter diresepkan mengandung tretinoid dosis rendah. Tentu isi salepnya itu isinya minim sekali, atau murni itu aja. Pernah dengar istilah Less Ingredients? Nah, sedangkan kalau kita beli di pasaran tentunya dicampur dengan beberapa ingredients yang lainnya. Apalagi dengan combination claim dalam sebuah produk. Hal itu sangat bisa menimbulkan reaksi lain ke kita. Itulah yang mebuat aku kesulitan membeli mana yang cocok di pasaran.

  

Trial Error Skincare

Nyoba brand ini-itu karena ngga bisa beli satu langsung cocok. Kadang cocok, kadang b aja, kadang malah bikin breakout di wajah. Trus juga kendala di harga juga. Produk cocok tapi mahal. Mau beli lagi akhirnya mikir ulang. Cari alternatif yang murah juga ngga gampang, trial error lagi. Keluar biaya lagi. Faktor tersebut yang bikin aku susah menentukan pilihan produk. Cape ngga sih ‍

Bisa juga karena aku bingung dengan klaimnya. Tergiur dengan klaim yang wow di produk tersebut. Katanya:Bisa memudarkan bekas jerawat dalam berapa  hari, bisa menangkan wajah yang kemerahan seketika. Bisa mencerahkan wajah tanpa membuat reaksi jerawatan.

Kita tertarik dengan klaim tersebut. Tapi nyatanya, ketika dipakai di kulitku itu tidak seperti klaimnya. Mungkin beberapa klaim benar, tapi beberapa klaim lainnya tidak sesuai. Itu membuat kebingungan.




 

Membeli Produk Sesuai Jenis Kulit

Bener banget, harus sesuai dengan jenis kulit. Tipe kulit aku itu berubah dari sebelum hamil, menyusui dan setelahnya.

Sebelum hamil berminyak parah, pori besar dan kusam aja, sama jerawat kecil-kecil. Ketika hamil, Kulitnya makin kusam dan jerawat kecilnya banyak. Nyusuin, beda lagi. Mau pakai apa-apa terbatas, karena lagi nyusuin. Jenis kulit ganti kombinasi. Berminyak di area tertentu dan kering di area tertentu. Ngelupas dan bruntusannya bikin tekstur. Bikin badmood, kena ac, jadi makin kering. Tentu dari faktor gaya hidup berubah setelah menjadi seorang ibu. Kegiatan lebih banyak, kurang minum, asupan kurang, sehingga jenis kulit berubah.

Karena memilih produk skincare sesusah itu, penting bagiku penulisan klaim produk harus jelas dan teruji secara ilmiah. Seperti kata BPOM yang dirilis pada web pom.go.id pada tahun 2014: Klaim produk harus memenuhi informasi yang ilmiah. Selain itu harus jujur dan tidak boleh salah klasifikasi sebuah produk.



FYI, tahun 2021, BPOM menerima 101.707 permintaan registrasi kosmetika dan naik 20% si tahun 2022 (berdasar Laporan BPOM 2021 & 2022). Ini membuktikan industri kosmetik semakin buanyak buanget dan kita sebagai konsumen sangat mungkin bingung harus pilih yang mana.

Familiar ngga sama sebuah kondisi, “Baruuu aja aku beli serum yang X, Brand ini udah ngeluarin serum Y ” .

Theresia Sinandang Head of Skinproof memaparkan bahwa,

Dalam industri kosmetik yang sangat kompetitif, klaim produk dapat menjadi alat yang efektif untuk membedakan merek dan menarik perhatian konsumen. Namun penting untuk memastikan bahwa klaim produk yang dikomunikasikan dapat dibuktikan secara ilmiah karena klaim produk harus digunakan dengan hati-hati dan transparan untuk membangun kepercayaan konsumen.”

 

 Makeup Juga Punya Klaim

Pernah tahu iklan lipmatte yang klaim awet seharian, 12 jam, 24 jam, waterproof dan transfproof? Aku punya beberapa shade dan itu sesuai dengan klaimnya, ini menjadi lipmatte TERJUARA versiku selama 6 tahun terakhir. Tentu ini menjadi keuntungan buat Brand ya, punya pembeli tetap, yaitu aku, hehe…

Atau ada juga yang katanya bisa memudarkan bekas jerawat dalam 7 hari dengan kandungan Vit C. Tapi ternyata di aku menimbulkan jerawat baru. Cerahnya sih dapet. Aku coba beberapa brand yang mengandung key ingredients yang sama, tetap jerawatan. Berarti aku tidak cocok dengan vit C.

Karena aku membeli skincare sesuai dengan kebutuhan, aku mencocokan antara klaim yang ditawarkan dengan pengalaman dalam menggunakan kandungan-kandungannya. Jika termyata aku tidak cocok kandungan tertentu, kedepannya kudu baca klaim produk dengan teliti.

Baca review Skincare-ku di sini.

 

Jadi kesimpulannya, Apakah Klaim Produk itu penting?

Ya. Ini membantu perusahaan kosmetik dalam menjual produknya, juga membantu konsumen menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan catatan, Brand harus jujur dan menjelaskan produk cocok untuk jenis kulit apa dan konsumen harus tahu jenis kulit masing-masing.

Untuk itu, SKINPROOF bantu konsumen dalam memilih produk kosmetik sesuai kebutuhan. Lihat deh brand-brand ini, mereka menggunakan Skinproof dalam memberikan kepercayaan untuk kita semua sebagai konsumen. Merasa kenal? 🙂

Dan ternyata, pengalamanku sebagai Customer Test sebuah brand yang kuceritakan di atas ada di salah satu Brand di bawah ini. So…. aku sudah merasakan menjadi salah satu bagian berkembangnya Brand dan Skinproof. 﫶



 

Bagi teman-teman yang baca ini, sebelum kalian beli produk, kalian lihat apanya sih?

 

Sumber Gambar: Skinproof | Skintific | Foto Dokumentasi dari narasumber | Web BPOM

Previous
Next Post »

Jejakkan komentar, saran, kritik, dan pertanyaan melalui Contact atau komentar di bawah ini. Gunakan komentar Facebook (di atas) jika ingin mendapat notifikasi balasan langsung dari Facebook. Atau bisa juga dengan akun Blog/Gmail.

Terima kasih berkenan membaca dan mampir di Vindy Pindy Mindy.
--- www.vindyputri.com ConversionConversion EmoticonEmoticon